Latest Games :

Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Definition of Life + (Versi Indonesia)

Kamis, 08 Maret 2012 | 0 komentar

As we have seen that the period of human life is divided into two (QS 40/11), the first life that is lived in the world (now) and the second is life in the hereafter. Both kinds of lives they apply in concrete circumstances.
A wide range of teaching about the nature of life and purpose in life has evolved. Each one is different about the meaning and purpose in life. Qur'an only one who can explain the meaning and purpose of human life enough so that it can be understood by every individual who needs it.
"Life is a struggle, life is the truth, hdup is a reality, he is to be filled with sincerity, He is there to be filled with honesty, and he is to be received gracefully." (Muhammad Taufiq, Ir)

1) People who believe that life is a struggle will see that life is a struggle that must be fought. Therefore, the day the day of his life will be lived by fighting. Meanwhile, people who believe that life is a challenge, will see that the life she lived is a challenge that must be solved. She will live her life with "solving the challenge". People who believe that life is a journey will see that life is a journey that must be accomplished its purpose. Thus he will live his life with the "walk" on it.
The way we believe will impact the lives of our mindset. Mindset will influence the actions, and actions will result in fate.
Now, how do we as believers should view life?
Translation Q.S. Al - Hadid (57) Verse 20:
"Know, sesungguhanya life of the world is but play and amusement joke, jewelry and mutual proud of you as well as compete in the wealth and offspring, such as planting rain - amazing crop farmers; later (the plant) it becomes dry and you see the color yellow then be destroyed. And in the next (later) there is a harsh punishment and forgiveness from Allah and His good pleasure. World and life is nothing but a false pleasure. "

# Note That: life is a game. Wow, does this mean that we do while alive is to play and fun - fun?

Understand the overall context. Who try to teach an understanding of God through (translation) of this revelation is that life is a game of short duration, and therefore we must be players from the "game of life", instead of playing - play in life.
The point?
Players are those who play the game seriously. Look at this example: a football player. does that mean? Those who play serious football following a football game and abide by the rules - rules.
Now consider those who make themselves "players" football is really - really: for example, Kaka. What God has given to Kaka who made himself "players" football? extraordinary life, an abundant income, popularity, millions of fans, etc..

That is just to make themselves as "players" are in fact soccer is limited by 45menit X 2 in the grass square and round balls.
Can imagine what God would give if you become a "player" of the great game of life? To set yourself a professional man of the world who follow the rules and "play" / live life seriously?

Imagine that.

Ask yourself again: What is the meaning of life for you?


Sources: 1) http://fikrirasyid.com/




Pengertian Hidup
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Masa Kehidupan manusia terbagi dua (QS 40/11), kehidupan yang pertama yaitu hidup di dunia (kini) dan kehidupan yang kedua yaitu di akhirat. Kedua macam kehidupan tersebut berlaku dalam keadaan konkrit.

Berbagai macam ajaran mengenai hakekat hidup dan tujuan hidup telah berkembang. Masing-masing berbeda tentang pengertian dan tujuan hidup. Hanya Al Qur’an lah yang dapat menjelaskan arti dan tujuan hidup manusia secukupnya sehingga dapat dipahami oleh setiap individu yang membutuhkannya.

” Hidup adalah perjuangan, Hidup adalah kebenaran, Hdup adalah kenyataan, Ia ada untuk di isi dengan kesungguhan, Ia ada untuk di isi dengan kejujuran, dan Ia ada untuk di terima dengan lapang dada.” (Muhammad taufiq, Ir)

1)Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjuangan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang harus di perjuangkan. Maka dari itu, hari hari dalam hidupnya akan dijalani dengan berjuang. Sedangkan orang yang meyakini bahwa hidup adalah tantangan, akan melihat bahwa hidup yang dijalaninya adalah tantangan yang harus di pecahkan. Dia akan menjalani kehidupannya dengan “memecahkan tantangan”. Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjalanan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang harus dicapai tujuannya. Maka dari itu dia akan menjalani kehidupannya dengan “berjalan” diatasnya.

Cara kita meyakini kehidupan akan berimbas ke pola pikir kita. Pola pikir akan mempengaruhi tindakan, dan tindakan akan menghasilkan nasib.

Sekarang, bagaimana kita sebagai orang beriman seharusnya memandang kehidupan?

Terjemahan Q.S. Al – Hadid ( 57 ) Ayat 20 :
“ Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”

# Note that : hidup adalah permainan. Waw, apakah ini berarti yang kita lakukan selagi hidup ini adalah bermain dan bersenang – senang?

Pahami konteks keseluruhan tersebut. Pemahaman yang coba di ajarkan Tuhan melalui (terjemahan) wahyu ini adalah bahwa hidup adalah sebuah permainan yang jangka waktunya pendek, maka dari itu kita harus menjadi pemain dari “permainan kehidupan”, bukannya main – main dalam kehidupan.

Maksudnya?

Pemain adalah mereka yang memainkan permainan dengan serius. Cermati contoh ini : pemain sepak bola. artinya? Mereka yang bermain sepak bola yang serius mengikuti permainan sepak bola dan mematuhi peraturan – peraturannya.

Sekarang perhatikan mereka yang menjadikan dirinya “pemain” sepak bola yang sungguh – sungguh : contoh, Kaka. Apa yang Tuhan berikan kepada Kaka yang menjadikan dirinya “pemain” sepak bola? kehidupan yang luar biasa, penghasilan yang melimpah, popularitas, jutaan penggemar, dll.

Itu baru menjadikan diri sebagai “pemain” sepak bola yang notabene dibatasi oleh 45menit X 2 dalam lapangan rumput persegi dan bola bundar.

Bisa bayangkan apa yang akan Tuhan berikan jika anda menjadi “pemain” dari permainan besar kehidupan? Menjadikan diri anda seorang manusia profesional yang mengikuti peraturan dunia dan “bermain” / menjalani kehidupan dengan serius?

Imagine that.

Tanya kembali diri anda : Apa arti kehidupan bagi anda?

Sumber : 1) http://fikrirasyid.com/



Continue Reading

Living Happy Early Success + (Versi Indonesia)

| 0 komentar

            May God blessed us with happiness. This joy that will deliver us to success. According to the study, people whose days filled with happiness, her life is more optimistic than people who are mediocre, which tend to be pessimistic. Remember, success is only owned by people who are optimistic. As an indication of a person who is easy to achieve success for several reasons.
First, the strength of faith.
One can certainly too strong a strong faith determination. Any kind of competition does not make him flinch.
Second, do not rely on creatures.
He believes in being true to depend on the disappointment that occurs. Bleaching in the season or seasons such as layoffs. Someone who is not too optimistic at heart of whether or not he got laid off. What is clear, how to keep it working as good as possible.
Third, look what it is or just the way you are.
People who perform what the orientation is not the creature but the judgment of Allah. Want to praise or no praise be happy.
Fourth, do not be resentful of other people.
Resentment in others must have experienced every orang.Bagaimana feel like? just added sengsara.Mau greet lazy because resentful. No interest would be canceled because it was better resentful. Edges that terasa.Maka true passion one feels a lot of enemies than a thousand friends.
Fifth, it is easy to forgive.
The happy life full of kelapangan.Setiap treatment was not wearing any of the others forgive immediately. Because it's useless, would be resentful as well have occurred.
Sixth, keep away from sin.
It has become a liability for us as Muslims. Because sin is what akanmenguragi practice. Hopefully if there is something rewarding if not, we come up short. Well, for that my brother, let's decorate our lives with happiness yag this moment. Strengthen the faith, keep yourself from being dependent on, show what it is, do not be resentful of other people, it's easy to forgive, and stay away from sin. May God continue to characterize our servants who fear Allah. Amin. And Allaah knows best bishshawwab.

Source : KH.Abdullah Gymnastiar


Hidup Bahagia Awal Kesuksesan
Oleh : KH.Abdullah Gymnastiar

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kebahagiaan. Karena bahagia ini yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan.
Menurut penelitian, orang yang hari-harinya diliputi kebahagian, hidupnya lebih optimis dibanding orang yang biasa-biasa saja, yang cenderung pesimis. Ingat, kesuksesan hanya dimiliki oleh orang-orang yang optimis. Adapun yang menjadi indikasi seseorang mudah mencapai kesuksesan karena beberapa sebab.

Pertama, kuatnya iman.
Dapat dipastikan seseorang yang kuat imannya kuat pula tekadnya. Sebesar apapun persaingan tak menjadikan dirinya gentar.
Kedua, tidak bergantung pada mahluk.
Dia meyakini betul dengan bergantung pada mahluk maka kekecewaan yang terjadi. Di musim pemutihan atau musim PHK misalnya. Seseorang yang berjiwa optimis tidak terlalu menghiraukan apakah dirinya kena PHK atau tidak. Yang jelas, bagaimana caranya untuk tetap bekerja sebaik mungkin.
Ketiga, tampil apa adanya atau just the way you are.
Orang yang tampil apa adanya orientasinya bukan pada penilaian mahluk melainkan pada Allah SWT. Mau dipuji atau tidak dipuji tetap bahagia.
Keempat, jangan sebel sama orang lain.
Rasa tidak suka pada orang lain pasti pernah dialami setiap orang.Bagaimana rasanya? justru tambah sengsara.Mau bertegur sapa malas karena sebel. Mau ada kepentingan pun lebih baik dibatalkan karena sebel. Ujung-ujungnya sengsara yang terasa.Maka benarlah musuh satu terasa banyak dibandingkan dengan teman seribu.
Kelima, mudah memaafkan.
Orang yang bahagia hidupnya penuh dengan kelapangan.Setiap ada perlakuan yang tidak mengenakan dari orang lain serta merta memaafkan. Karena percuma, mau dibuat sebel juga sudah terjadi.
Keenam, menjauhkan diri dari dosa.
Ini sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku muslim. Karena dosa inilah yang akanmenguragi amalan. Syukur-syukur kalau ada sesuatu yang mendatangkan pahala jika tidak, kita tekor. Nah, untuk itu saudaraku, mari kita hiasi hidup kita yag sebentar ini dengan kebahagiaan. Kuatkan iman, jauhkan diri dari bergantung pada mahluk, tampil apa adanya, jangan sebel sama orang lain, mudah memaafkan, dan menjauhlah dari dosa. Semoga Allah tetap menggolongkan kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Amin. Wallahu a'lam bishshawwab.

Continue Reading

Happy Living Forever + (Versi Indonesia)

| 0 komentar

Happiness is the livelihoods of almost everyone. Whether it's working, marriage, prayer and other activities of life, it all boils down to the ocean is called happiness. You should do a survey on the roadside, perhaps all normal human beings want happiness. Similarly, the enormity of the attractiveness of happiness, so many people who want to achieve with the costs and expenses of any kind. So, be expected to live like a trip boils down to happiness.
However, despite a goal from the old man, and man has spent energy, time and funds are very large, there still remains a lot of people who are not satisfied with it. In many corners of life even occur, there is little life is just wallowing in tears. Corner-corner like this are not only available in the poor slums, but also occur at the elite housing complete with a luxury car.
Last fact as it teaches us, that the laughter and the tears do not recognize the barrier property. Both can occur at any level and in any property. So, is there something that characterizes the presence of laughter and tears? Borrowing Down Hugh argument - as quoted by the author of A Cup of Chicken Soup For the Soul - 'people are happy not someone who is in a particular state, but rather a person with the specific attitude'.
If the observed final argument, not a point the importance of the state (read: the treasure, throne and other circumstances) but the attitude is we who determine how much longer can we have life happiness. With the right attitude, not rich or poor, high or low position, in a city or village, it opened the door of happiness are the same width by God.
The problem is, very few people who seek happiness through pathways attitude. Generally, people were chasing him in the state sector. So, be the last activity as the pursuit of activities that do not recognize the skyline late. Or like chasing his own shadow.
Because of the demands of work and living habits to always hang out on top and below, I often meet people who are made miserable by the excessive desire to achieve certain circumstances. Driven by a cruel machine named desire, be a body and her life as a fast-moving car but no driver. Often until the desired state is. However, expenses paid and very very expensive. Not rare, the cost is their own lives.
Somewhat different from the search, property search, and the throne, there are some people I know who focused most of its energy in the improvement and development of attitudes. The focus is not a situation that is out there, but the attitude that comes from in here. Certainly not easy, especially at first. And I myself still learning. However, once the region already possessed this attitude, happiness is not the goods are very rare and expensive.
Call it a wonderful character named Helen Keller. It has a state in which his eyes can not see. However, more than half his time is filled with faces full of smiles. Likewise, Mother Theresa, the majority of his life surrounded by diseased people in poor neighborhoods. But, anyway, he could have the old age and length. Buddhist treasures and even left the throne to reach enlightenment. Actually there are other examples that are too long to tell here.
Clearly, the crucial key sikaplah on the way to happiness. In this regard, there is a Chinese proverb that caught my attention. The saying is very simple sounds. If you want happiness. For an hour - go to sleep during it. For a day - go fishing. For a month - get married again. For a year – inherit treasure. For a lifetime - please someone else.
I had long focused on a simple maxim last. The more he be explored, the more I was brought into the circuit of such an understanding of the complete happiness and wonderful. Attitude, that is upstream from the river of happiness. The more so if the last position are translated into attitude diligent help and helping others. River of happiness would be the river that never knew dry.
Somehow you define the phrase 'please others'. I know a friend who is rich in material and life ended admirable. When he was alive, often celebrated his birthday in orphanages and nursing homes in turn. Having foster children everywhere. Spoken so gentle. Errors reminds me very fit and never hurt. Lots of friends - including me - such a loss when he died.
All this reminds me and like you, be positive, and we too have come to the state of happily ever after.
When the All Things are done well, the journey is the reward - so one of my meditation teacher once said.

Source             : Gede Prama






Hidup Bahagia Selamanya
Oleh: Gede Prama

Kebahagiaan adalah mata pencahariaan hampir setiap orang. Entah itu bekerja, menikah, berdoa dan kegiatan hidup lainnya, semuanya bermuara pada samudera yang bernama kebahagiaan. Boleh Anda lakukan survey di pinggir jalan, mungkin semua manusia normal menginginkan kebahagiaan. Demikian dahsyatnya daya tarik kebahagiaan, sehingga banyak orang yang mau mencapainya dengan ongkos dan biaya yang sebesar apapun. Maka, jadilah hidup seperti perjalanan yang diharapkan bermuara pada kebahagiaan.
Akan tetapi, kendati sudah menjadi tujuan manusia sejak lama, dan manusia sudah menghabiskan tenaga, waktu dan dana yang teramat besar, masih saja tersisa banyak sekali orang yang tidak puas akan hal ini. Di banyak pojokan kehidupan bahkan terjadi, ada tidak sedikit kehidupan yang hanya bergelimang air mata. Pojokan-pojokan seperti ini tidak hanya tersedia di tempat miskin yang kumuh, melainkan juga terjadi di perumahan elit lengkap dengan mobil mewahnya.

Kenyataan terakhir seperti mengajarkan ke kita, bahwa tawa dan air mata tidak mengenal sekat-sekat harta. Keduanya bisa terjadi pada tingkatan harta berapapun dan di manapun. Lantas, adakah sesuatu yang menjadi ciri khas hadirnya tawa dan air mata ? Meminjam argumen Hugh Down - sebagaimana dikutip penulis buku A Cup of Chicken Soup For the Soul - 'orang yang berbahagia bukanlah seseorang yang berada dalam suatu keadaan tertentu, melainkan seseorang dengan perangkat sikap tertentu'.
Kalau dicermati argumen terakhir, point pentingnya bukanlah keadaan (baca : harta, tahta dan keadaan lainnya) melainkan perangkat sikap kitalah yang lebih menentukan seberapa lama umur kebahagiaan bisa kita miliki. Dengan perangkat sikap yang tepat, mau miskin atau kaya, jabatan tinggi atau rendah, di kota atau di desa, semuanya dibukakan pintu kebahagiaan yang sama lebarnya oleh Tuhan.

Persoalannya, jarang orang yang mencari kebahagiaan melalui jalur-jalur sikap. Umumnya, orang mengejarnya di sektor keadaan. Maka, jadilah kegiatan terakhir seperti kegiatan mengejar kaki langit yang tidak mengenal akhir. Atau seperti mengejar bayangan sendiri.
Oleh karena tuntutan pekerjaan, serta kebiasaan hidup untuk senantiasa bergaul di atas maupun di bawah, tidak jarang saya bertemu orang yang dibuat sengsara oleh nafsu berlebihan untuk mencapai keadaan tertentu. Didorong oleh mesin kejam yang bernama keinginan, jadilah tubuh dan hidupnya seperti mobil yang bergerak cepat tapi tanpa sopir. Kerap sampai dalam keadaan yang diinginkan memang. Tetapi, ongkos yang dibayarnya amat dan teramat mahal. Tidak jarang terjadi, ongkosnya adalah kehidupan mereka sendiri.
Agak berbeda dengan pencari-pencari harta dan tahta, ada sejumlah orang yang saya kenal yang memusatkan sebagian besar energi dalam perbaikan dan pengembangan sikap. Fokusnya memang bukan keadaan yang ada di luar sana, melainkan sikap yang muncul dari dalam sini. Tidak mudah tentunya, terutama pada awalnya. Dan saya sendiri masih dalam tahap belajar. Namun, begitu wilayah sikap ini sudah terkuasai, kebahagiaan bukanlah barang yang teramat langka dan mahal.

Sebutlah seorang tokoh mengagumkan yang bernama Helen Keller. Ia memiliki keadaan dalam bentuk matanya yang tidak bisa melihat. Akan tetapi, separuh lebih waktunya diisi dengan raut muka yang penuh dengan senyum. Demikian juga dengan Bunda Theresa, hidupnya sebagian besar dikelilingi orang-orang berpenyakit di lingkungan miskin. Akan tetapi, toh beliau bisa memiliki umur tua dan panjang. Buddha bahkan meninggalkan harta dan tahta untuk mencapai pencerahan. Sebenarnya masih ada contoh lain yang terlalu panjang untuk diceritakan di sini.
Yang jelas, sikaplah kunci yang amat menentukan dalam perjalanan menuju kebahagiaan. Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah pepatah cina yang menarik perhatian saya. Pepatah tersebut berbunyi amat sederhana. Jika kau menginginkan kebahagiaan. Untuk sejam - tidurlah selama itu. Untuk sehari - pergilah memancing. Untuk sebulan - menikahlah lagi. Untuk setahun - warisi
harta. Untuk seumur hidup - tolonglah orang lain.
Lama sempat saya terpaku pada pepatah sederhana terakhir. Semakin ia didalami, semakin saya dibawa ke dalam rangkaian pemahaman tentang kebahagiaan yang demikian lengkap dan mengagumkan. Sikap, itulah hulu dari sungai kebahagiaan. Lebih-lebih kalau sikap terakhir dijabarkan ke dalam sikap rajin membantu dan menolong orang lain. Sungai kebahagiaan akan menjadi sungai yang tidak pernah mengenal kering.
Entah bagaimana Anda menjabarkan kalimat 'tolonglah orang lain'. Saya mengenal seorang sahabat yang kaya secara materi dan hidupnya berakhir mengagumkan. Ketika beliau masih hidup, sering kali merayakan ulang tahunnya di panti asuhan dan panti jompo secara bergantian. Memiliki anak asuh di mana-mana. Tutur katanya demikian lemah lembut. Mengingatkan kesalahan saya secara amat pas dan tidak pernah menyakiti hati. Banyak sekali sahabatnya - termasuk saya - yang demikian kehilangan ketika beliau meninggal dunia. Semua ini seperti mengingatkan saya dan Anda, bersikaplah yang positif, dan kitapun sudah sampai pada keadaan bahagia selamanya. When all things are done well, the journey is the reward - demikian salah seorang guru meditasi saya pernah berucap.

Continue Reading

Life (Success) That Beginning Of Courage + (Versi Indonesia)

| 0 komentar

Ringing phone woke me up this afternoon from a busy work inexhaustible in the table. Rang twice already, I ignore it all. Three new tones to make me stop the activity. But once the phone. I am ready to lift, the connection was interrupted.
From the HandPhone monitor I see a missed call signaling with the phone number I do not know. There is no name, meaning a call from someone who does not listed on the HP memory. Considering the close working lunch, I thought to slightly relax while calling back the caller.
Older phones are not connected, then there is the voice that answers. Vote
men. Overlook my voice I've ever heard. Who are you?
How happy is when I learned that the telephone at the other end comes from the
sound old friend who had separated 20 years. The conversation becomes noisy
and called to mind my close relationship with him. Starting from the entrance
working together. Rode a bicycle to go to work together, then he also went to college we worked together. Only a undergraduate course, my first four years of it.
Shadow of a smile and mischievous behavior of my friends still made an impression, when the relationship Our call is completed.
I paused, recalling the conversation of my friend. A desire he's strong in order to stay in touch Eid mood, so he managed to get my phone number out of anyone. As a fellow friend I think I do not feel there was something changed in me. But friends I believe the other. The last words prove it, and still imprint ringing in my ears.
"We are now yes. You've already Boss! "
In 1988, I officially parted ways with him, when I left the company. Unanimous decision twenty years ago, made me give up all predicate and the facilities of the company in a place where my friends are is still working. Paid quite big comfort, joy will receive an annual bonus of up to six times the salary not to step I.
The issue is just trivial. The company did not acknowledge my scholarship. I challenged. Despite eight years of work, I was then out just to prove that I could be a career in a company that is I can appreciate. And it was proven. Although it must be through
difficult times a year, in fact, success began to meet.
Stop from one company to make me more brave and challenged to work elsewhere. Until now I've worked in agencies to four.
I do not feel like a Boss, but I admit my condition was much different from my friend. My salary was six-fold.
Thank God I was able to either wandered into some of the country outside,
as well as to most areas within the country. Facilities that might be something
if possible can I get it working as my friend.
Did I succeed? Wallahu'alam. In the sky there is heaven again.
Around the year 1997, co-workers with a job level below me out of the company. He hanged jobs in other companies with equivalent positions higher. And without it can be anticipated, in 2002 no change management in total at the institution where I work, he was then apply for re-entry. Although accepted as a new workforce, but He immediately held the positions of two levels above me. Until now.
On several occasions I met him often. Speak directly, discussions, or meetings in one large table. Although not explicitly as stated in a phone call my friend, but in conversation
directly, with this one my friend, I can feel and often said to himself: "We are now yes. You've already Boss! "
Everyone has a success each time. Each person will achieve levels of success vary.
We can only vying to succeed, but we will not know any efforts will succeed or not sow, and also will not know how far the level of success that will come. Because success is
the other side of the coin of life. One side of the coin is called a success, other
is a failure. We can only try. The result, it is only God knows.
Arises because of the initiative effort. Initiative is being driven by the motivation. Motivation comes as a trigger factor that comes from external or internal, or it could be a combination of both.
If there are children who go to school, come home, later that night to learn their own
continuously, and he rose grade by performing well enough, then
child's success is a result of the initiatives that arise internally
from within itself. This is called a diligent boy.
If there are children who go to school, come home, later that night did not learn.
Just wants to watch soap operas, was told to learn sometimes would sometimes not, and
before the semester exams would begin studying diligently, then the next grade with
perform well enough, then the child's success is due to the initiative
combination of external and internal. This is called a child who had to be diligent.

Of the three types of children before, we can guess what will become of the child in
now married and working later. Matter is made, the cake will
like the mold that formed later.

Have a cookie cutter can be changed? And, when?
To succeed and excel, then "we must create small sharks
in our lives, "according to Jamil Azzaini motivator.

The sentence quoted above, he simulated on a small group
children who regularly attend classes to swim training. Achievement time
them to swim a certain distance, not much changed. Up to one
The next training session time, when children will begin to exercise the
coach warned: "you have to swim faster, because in the pool
there are fish sharks. "Until when the whistle is blown, the boys swim
times faster than usual because of fear of their performance of shark bites
minor.

So do not be surprised if we chased the dog, then we can run faster
of an Olympic runner. Or, we could melompampati a six-foot fence.

Small sharks, and the dog was not the same as the name suggests the threat. Was
personification of the threat itself is called a challenge.

Pose the threat of the guts. Keberanianlah which makes the ability
realize we are up and come out of nowhere.

Keberanianlah that makes a cockroach, lizards, mice, and cats, which falls
into the pool, it can swim a self-taught.

Keberanianlah that can make a child not only diligent, but also
a child who is forced to be diligent, or a child is forced to be more diligent
doing well in school, ONLY if there are challenges that come. Can be shaped
threat or a gift of appreciation.

Apparently everyone is created equal. We may already have a mold
each cake. But we ourselves are able to freely choose to change
or not a cookie cutter conformity of the challenges that arise
in the course of our lives.

Unfortunately, my friend had not called to change the mold.
My friend was very lucky that the other change at the time the cake mold
right. At the time I did not realize it.

How about you?
Finish reading this article, be prepared to meet every challenge with
courage to achieve a success.


Sources: Sinang Bulawan




Hidup (Sukses) Itu Bermula Dari Keberanian


Dering telepon di siang hari ini menyadarkan saya dari kesibukan kerja yang
tidak habis-habisnya di meja. Dua kali sudah berdering, semuanya saya abaikan.
Baru dering ke tiga membuat saya menghentikan aktifitas. Namun begitu telepon
siap saya angkat, ternyata sambungan terputus.

Dari monitor HP saya lihat ada sinyal missed call dengan nomor telepon yang
tidak saya kenal. Tidak ada namanya, berarti telepon dari seseorang yang tidak
terdaftar di memori HP. Menimbang waktu kerja mendekati makan siang, saya
terpikir untuk sedikit bersantai sambil menghubungi balik si penelpon.

Lama telepon tidak tersambung, kemudian ada suara yang menjawab. Suara
laki-laki. Pangling saya, suara yang pernah saya dengar. Siapa ya?

Betapa senang hati ini ketika tahu kalau telepon di ujung sana berasal dari
suara teman lama yang sudah berpisah 20 tahun lamanya. Percakapan menjadi riuh
dan seru mengingatkan kembali hubungan erat saya dengannya. Mulai dari masuk
kerja bersama-sama. Berangkat kerja berboncengan dengan sepeda bersama-sama,
kemudian sambil berkerja kami juga masuk kuliah bersama-sama. Hanya menjadi
sarjana saja, saya lebih dulu empat tahun darinya.

Bayangan senyum dan perilaku nakal teman saya masih membekas, di kala hubungan
telepon kami selesai.

Saya terdiam, mengenang kembali percakapan dari teman tadi. Suatu keinginan
kuat dia untuk bersilaturahmi dalam rangka suasana Idul Fitri, sehingga dia
berhasil mendapatkan nomor HP saya entah dari siapa. Sebagai sesama teman
rasanya saya tidak merasa ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Tapi teman
saya berkeyakinan lain. Kata-katanya yang terakhir membuktikan itu, dan masih
membekas terngiang di telinga saya.

”Kita sekarang lain ya. Kamu kan sudah Boss!”

Tahun 1988, saya resmi berpisah dengannya, di saat saya keluar dari perusahaan.
Keputusan bulat dua puluh tahun yang lalu, membuat saya melepaskan segala
predikat dan fasilitas dari perusahaan di tempat dimana teman saya tersebut
sampai saat ini masih berkerja. Kenyamanan gaji yang cukup besar, kegembiraan
akan mendapat bonus tahunan sampai enam kali gaji tidak menyurutkan langkah
saya.

Persoalannya hanya sepele. Perusahaan tersebut tidak mengakui kesarjanaan saya.
Saya tertantang. Walau sudah berkerja delapan tahun, saya pun kemudian keluar
hanya untuk membuktikan kalau saya bisa berkarir di perusahaan yang memang
dapat menghargai saya. Dan itu memang terbukti. Walaupun harus melalui
masa-masa sulit satu tahun lebih, nyatanya keberhasilan mulai menyongsong.
Berhenti dari satu perusahaan membuat saya lebih berani dan tertantang untuk
berkerja di tempat lain. Hingga sekarang saya sudah berkerja di instansi ke
empat.

Saya tidak merasa sebagai seorang Boss, tetapi saya akui kondisi saya sudah
jauh berbeda dengan teman saya tadi. Gaji saya sudah enam kali lipat.
Alhamdulillah saya sudah bisa melanglang buana baik ke beberapa negara di luar,
maupun ke sebagian besar daerah di dalam negeri. Sesuatu fasilitas yang mungkin
mustahil dapat saya peroleh bila tetap berkerja seperti teman saya tadi.

Apakah saya berhasil? Wallahu’alam.
Di atas langit masih ada langit lagi.

Sekitar tahun 1997, teman kerja dengan jabatan setingkat di bawah saya keluar
dari perusahaan. Dia pindah kerja di perusahaan lain dengan jabatan setingkat
lebih tinggi. Dan tanpa bisa diantisipasi, di tahun 2002 ada perubahan
manajemen secara total di instansi tempat saya berkerja, beliau pun kemudian
melamar untuk masuk kembali. Walau diterima sebagai tenaga kerja baru, tetapi
dia langsung memegang jabatan penting dua tingkat di atas saya. Sampai sekarang.

Dalam beberapa kesempatan sering saya bertemu dengannya. Berbicara langsung,
berdiskusi, atau rapat dalam satu meja besar. Walau tidak secara eksplisit
seperti diutarakan teman saya dalam telepon tadi, tetapi dalam percakapan
langsung, dengan teman saya yang satu ini, saya bisa merasakan dan sering
berkata dalam hati; ” Kita sekarang lain ya. Kamu kan sudah Boss!”

Setiap orang memiliki waktu suksesnya masing-masing.
Setiap orang akan mencapai tingkatan sukses yang berbeda-beda.

Kita bisa saja berlomba-lomba untuk sukses, namun kita tidak akan tahu setiap
usaha yang dilakukan akan menyemai sukses atau tidak, dan juga tidak akan tahu
seberapa jauh tingkatan sukses itu akan menghampiri. Karena sukses merupakan
sisi lain dari koin kehidupan. Satu sisi koin dinamakan sukses, satunya lagi
adalah kegagalan. Kita hanya bisa berusaha. Hasilnya, yang tahu itu hanya Tuhan.

Usaha timbul karena adanya inisiatif. Sedang insiatif digerakkan oleh adanya
motivasi. Motivasi muncul karena adanya faktor pencetus yang datang dari
eksternal atau internal, atau bisa saja gabungan dari keduanya.

Kalau ada anak yang pergi ke sekolah, pulang, kemudian malamnya belajar sendiri
terus menerus, dan dia naik kelas dengan berprestasi cukup baik, maka
keberhasilan anak tersebut akibat adanya inisiatif yang muncul secara internal
dari dalam dirinya sendiri. Ini disebut anak yang rajin.

Kalau ada anak yang pergi ke sekolah, pulang, kemudian malamnya tidak belajar.
Maunya nonton sinetron saja, disuruh belajar kadang mau kadang tidak, dan
menjelang mau ujian semester mulai rajin belajar, lantas naik kelas dengan
berprestasi cukup baik, maka keberhasilan anak tersebut akibat adanya inisiatif
gabungan antara eksternal dan internal. Ini disebut anak yang terpaksa rajin.

Dari ketiga tipe anak tadi, kita bisa menebak bagaimana jadinya si anak pada
saat sudah berkeluarga dan berkerja nantinya. Cetakan sudah dibuat, kuenya akan
terbentuk seperti cetakan itulah nantinya.

Apakah cetakan kue tersebut bisa diubah? Dan, kapan?
Untuk berhasil dan berprestasi, maka ”kita harus menciptakan hiu-hiu kecil
dalam hidup kita,” ini menurut motivator Jamil Azzaini.

Kalimat bertanda kutip di atas disimulasikan beliau terhadap kelompok kecil
anak-anak yang rutin mengikuti kelas pelatihan berenang. Prestasi waktu
berenang mereka untuk jarak tertentu, tidak banyak berubah. Hingga pada satu
sesi waktu pelatihan berikutnya, pada saat anak-anak akan mulai latihan sang
pelatih mengingatkan; ”kalian harus berenang lebih cepat, karena di dalam kolam
ada ikan hiunya.” Hingga sewaktu pluit ditiup, anak-anak tadi berenang dengan
waktu lebih cepat dari prestasi mereka biasanya karena takut digigit ikan hiu
kecil.

Jadi janganlah heran bila kita dikejar anjing, maka kita bisa lari lebih cepat
dari pelari olimpiade. Atau, kita bisa melompampati pagar setinggi dua meter.

Ikan hiu kecil, dan anjing tadi tidak lebih sama dengan namanya ancaman. Sedang
ancaman itu sendiri personifikasi dari yang disebut tantangan.

Ancaman menimbulkan keberanian. Keberanianlah yang membuat kemampuan bawah
sadar kita bangkit dan muncul tiba-tiba.

Keberanianlah yang membuat seekor kecoak, cecak, tikus, dan kucing, yang jatuh
ke dalam kolam, ternyata bisa berenang secara otodidak.

Keberanianlah yang bisa membuat tidak hanya seorang anak rajin, tetapi juga
seorang anak yang dipaksa rajin, atau seorang anak terpaksa rajin akan lebih
berprestasi di sekolah, HANYA apabila ada tantangan yang datang. Bisa berbentuk
ancaman atau apresiasi berupa hadiah.

Ternyata setiap orang diciptakan sama. Kita boleh saja sudah memiliki cetakan
kue masing-masing. Tetapi kita sendiri juga bisa bebas memilih untuk mengubah
atau tidak cetakan kue tersebut sesuai dari tantangan-tantangan yang muncul
dalam perjalanan hidup kita.

Sayang sekali, teman saya yang menelpon tadi tidak ingin mengubah cetakannya.
Beruntung sekali teman saya yang satunya lagi mengubah cetakan kuenya pada saat
yang tepat. Pada saat saya tidak menyadarinya.

Bagaimana dengan anda?
Selesai membaca tulisan ini, siap-siaplah menyongsong setiap tantangan dengan
keberanian untuk mencapai suatu kesuksesan.


Sumber : Sinang Bulawan

Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Review The LIfe - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger